Apa Itu Ilmu Fikih?

Pengertian Fiqih – Sobat Muda pasti sering mendengar kata fikih ketika belajar ilmu agama. Karena memang hampir sebagian besar dari ilmu agama yang diajarkan memiliki kaitan dengan ilmu fikih. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah sobat muda paham apa itu ilmu fikih? Yuuk, simak penjelasan singkatnya berikut ini.

Pengertian Fikih

pengertian fikih menurut bahasa
pixabay.com

Definisi Menurut Bahasa

Dalam bahasa arab, secara harfiah, fikih berarti pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah berikut ini :

فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

“Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami (yafqahuuna) pembicaraan sedikitpun?” (QS. An Nisa : 78)

Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ

“Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya (fiqhihi).” (Muslim no. 1437, Ahmad no. 17598, Daarimi no. 1511)

Definisi Menurut Istilah

Sementara itu fikih, menurut istilah mengandung dua arti, yakni :

    1. Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at (agama), yaitu yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf (orang-orang yang sudah mendapatkan kewajiban untuk menjalankan hukum-hukum agama), yang diambil dari dalil-dalil yang bersifat terperinci, berupa ayat-ayat al Qur’an dan As sunnah serta yang bercabang darinya yang berupa ijma’ (kesepakatan para ulama) maupun ijtihad (hasil pemikiran seorang ulama tentang ilmu dan hukum-hukum syari’at).
    2. Hukum-hukum syari’at itu sendiri.

Perbedaan antara kedua definisi di atas yakni, bahwa menurut arti yang pertama, ilmu fikih digunakan untuk mengetahui hukum-hukum agama, seperti misalnya seseorang ingin mengetahui apakah suatu perbuatan itu hukumnya wajib atau sunnah, haram atau makruh, ataukah mubah, yang kesemuanya ditinjau dari dalil-dalil yang ada.

Sedangkan menurut arti yang kedua, ilmu fikih adalah hukum-hukum syari’at itu sendiri (yaitu hukum apa saja yang terkandung dalam shalat, zakat, puasa, haji, dan lainnya berupa syarat-syarat, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban, atau sunnah-sunnahnya).

Sumber Ilmu Fikih

Untuk mempelajari ilmu fikih, sobat muda harus memahami darimana saja sumber-sumber hukum yang dapat dijadikan sebagai dalil, diantaranya ;

Al Qur’an

Al Qur’an menjadi sumber hukum yang pertama dan utama untuk segala perkara dalam agama Islam, termasuk juga dalam ilmu fikih. Jadi apabila seseorang ingin mengambil sumber hukum dalam setiap perkara agama Islam maupun ilmu fikih, maka harus diambil dari Al Qur’an.

Misalnya, sobat muda ingin mengetahui tentang hukum atau perintah mengerjakan shalat, maka yang pertama kali harus dijadikan sebagai dalil adalah apa yang terdapat dalam Al Qur’an. Diantaranya seperti yang terdapat pada surat Al Baqarah ayat 43.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.

As Sunnah

Sumber hukum fikih yang berikutnya adalah AS Sunnah, yakni semua yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuan beliau. As Sunnah ini bisa juga disebut dengan Hadits, meskipun pengertiannya tidak bisa disamakan secara keseluruhan.

As Sunnah bisa juga digunakan untuk menafsirkan makna-makna yang ada di dalam Al Qur’an. Sehingga ketika ada makna ayat yang tidak dipahami dalam Al Qur’an, maka untuk menafsirkannya harus melihat apa yang disampaikan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, As Sunnah juga bisa dijadikan sebagai landasan hukum untuk setiap perkara yang tidak ada penjelasannya dalam Al Qur’an.

Misalnya, dalam Al Qur’an disebutkan perintah untuk shalat, namun tidak dijelaskan bagaimana mengenai tata caranya, maka dalam hal ini harus merujuk kepada As Sunnah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti dalam hadits berikut ini,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Bukhari no. 595)

Jadi, apabila sobat muda ingin mengetahui tentang setiap perkara agama Islam maupun hukum fikih, maka harus mengambil dalilnya dari Al Qur’an dan juga As Sunnah. Inilah dua sumber hukum utama dalam ilmu fikih, yang mana keduanya berasal dari wahyu Allah.

Ijma’

Ijma’ bisa diartikan sebagai kesepakatan seluruh ulama Islam terhadap perkara-perkara agama atau dalam ilmu fikih. Ijma’ menjadi sumber hukum ketiga dalam ilmu fikih setelah Al Qur’an dan As Sunnah, khususnya apabila suatu perkara agama atau hukum fikih tidak dijelaskan secara nyata dalam Al Qur’an maupun As Sunnah.

Misalnya, kesepakatan para ulama ahli hadits tentang hukum hadits dhaifun  jiddan (sangat lemah) dan maudhu (palsu), tidak dapat dijadikan sebagai dalil sama sekali dalam menetapkan hukum-hukum fikih.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu tentang hadits tidak dijelaskan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah, sehingga para ulama yang memiliki ilmu tentang hadits bersepekat dalam penetapan hukum hadits dhaifun jiddan dan maudhu tidak boleh digunakan sebagai dalil dalam hukum-hukum fikih.

Qiyas

Sementara Qiyas bermakna mencocokkan suatu perkara yang tidak didapatkan di dalamnya hukum syar’i dengan perkara lain yang memiliki keterangan yang sehukum dengannya, dikarenakan persamaan sebab/alasan antara keduanya. Pada qiyas inilah kita meruju’ apabila kita tidak mendapatkan nash dalam suatu hukum dari suatu permasalahan, baik di dalam Al Qur’an, sunnah maupun ijma’.

Misalnya tentang hukum rokok. Tidak ada satupun dalil yang secara jelas, baik itu dari Al Qur’an, As Sunnah maupun Ijma’ para ulama yang menyebutkan tentang hukum rokok, karena rokok baru muncul 500 tahun setelah masa Nabi dan para sahabat.

Sehingga kemudian para ulama meng-qiyaskan (mencocokkan) hukumnya dengan hukum menyakiti diri sendiri atau bunuh diri, sebab rokok memiliki efek buruk yang serupa dengan itu. Dalilnya adalah hadits Qudsi berikut ini,

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zhalim dan Aku jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.” (HR Muslim)

Naah, kurang lebih seperti itu sobat muda penjelasan mengenai pengertian fikih, meskipun apa yang disampaikan diatas masih lah sangat sedikit. Semoga bisa sedikit memberikan untuk sobat muda. Insyaa Allah kita akan bahas lagi pada artikel yang lain.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi :

  • Fiqih Islam, redaksi muslim.or.id
  • Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Contoh-contoh Pelanggaran Terhadap Ijma’, Almanhaj.or.id

Leave a Comment