Kenapa Harus Shalat?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Sobat muda, mungkin sebagian diantara kita pernah memikirkan banyak pertanyaan tentang berbagai ibadah yang harus dikerjakan oleh seorang muslim. Kenapa harus mengerjakan ini, kenapa tidak boleh seperti itu, dan sebagainya. Dan satu diantara pertanyaan yang terpikir kan adalah kenapa sih kita harus shalat?

Bunyi pertanyaan ini terdengar sangat sederhana, hampir sama seperti pertanyaan, kenapa sih kita harus makan? kenapa sih kita harus tidur? Namun jawabannya, tidaklah semudah mendapatkan jawaban pertanyaan kenapa kita harus makan atau tidur. Sebab jawaban dari pertanyaan tentang makan dan tidur, bisa dirasakan langsung oleh kita, sehingga tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar dari orang lain. Misalnya, jika kita tidak makan atau tidak tidur, maka tubuh kita bisa menjadi lemas, mudah terserang penyakit bahkan bisa menyebabkan kematian.

Tetapi bagaimana dengan shalat? Apakah kita bisa merasakan langsung akibatnya jika tidak shalat? Apakah jika kita tidak shalat, tubuh kita jadi lemas atau mudah terserang penyakit atau bisa menyebabkan kematian juga? Ternyata kita tidak bisa merasakan itu semua ketika tidak shalat. Maka tidak mengherankan jika pada hari ini kita menyaksikan banyak umat Islam yang masih meninggalkan shalat. Sebab mungkin sebagian diantara mereka tidak benar-benar mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Berikut ini beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan diatas ;

1. Tujuan Diciptakan Manusia

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia tidaklah lepas dari tujuan penciptaannya. Sebagaimana semua benda yang ada di sekitar kita, pasti juga memiliki tujuan kenapa ia dibuat. Misalnya, pakaian dibuat dengan tujuan untuk menutup tubuh. Buku, dibuat dengan tujuan untuk dibaca atau tempat untuk menulis. Jadi, segala sesuatu yang dibuat atau diciptakan sangat mustahil tidak memiliki tujuan. Terlebih lagi dengan penciptaan manusia, sangat mustahil Allah menciptakan manusia tidak memiliki tujuan.

Sementara itu, prinsip dari penciptaan adalah sebuah ciptaan dikatakan berhasil atau sukses apabila dapat berfungsi sesuai dengan tujuan penciptaannya. Misalnya, buku yang dibuat sebagai bahan bacaan dan referensi ilmu, tetapi kemudian malah digunakan untuk pembungkus makanan, seperti gorengan. Jelas hal ini tidak sesuai dengan tujuan awal dibuatnya buku tersebut. Bahkan jika penulis buku tersebut mengetahui hasil kreasinya digunakan untuk membungkus makanan, bisa jadi ia akan marah kepada orang yang melakukannya. Demikian halnya dengan penciptaan manusia. Allah-pun akan marah kepada setiap manusia yang berbuat tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bahkan Allah memberikan ancaman kepada setiap manusia yang membelot dari tujuan penciptaannya.

Terus, memang apa sih tujuan penciptaan manusia?

Allah Ta’ala berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56)

Allah Sang Maha Pencipta, telah mengabarkan dengan sangat jelas tujuan diciptakannya manusia, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah semata. Dan perlu diketahui bahwasanya sebaik-baik ibadah yang dikerjakan oleh seorang muslim adalah shalat. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut. 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling afdhol (utama -ed)?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya.” Lalu aku bertanya lagi, “Terus apa?” “Berbakti pada orang tua“, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  “Lalu apa lagi”, aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah“, jawab beliau. (HR. Bukhari no. 7534 dan Muslim no. 85)

Bahkan shalat merupakan satu-satunya ibadah, dan tidak ada ibadah selainnya, yang Allah perintahkan secara langsung untuk hamba-hamba-Nya melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada perantara apapun, yang terjadi pada peristiwa Isra’ Mi’raj.

Jadi, apabila ada seseorang yang mengaku dirinya muslim tetapi tidak mengerjakan shalat, maka bisa dikatakan dia adalah makhluk ciptaan Allah yang gagal, karena tidak mampu menjalankan fungsinya sesuai tujuan penciptaannya, yakni untuk menyembah dan beribadah hanya kepada Allah semata.

2. Tidak Ada Pilihan Untuk Meninggalkan Shalat

Apakah seseorang memiliki pilihan untuk tidak mengerjakan shalat? Jawabannya adalah TIDAK.

Seorang muslim tidak memiliki pilihan maupun kehendak untuk meninggalkan shalat, kecuali untuk orang-orang yang telah ditetapkan oleh syariat Islam, yang dibolehkan untuk meninggalkan shalat. Seperti, anak kecil yang belum baligh, orang gila dan wanita yang sedang haid atau nifas.  Adapun selainnya maka tidak ada pilihan untuk meninggalkan shalat.

Kenapa seseorang tidak memiliki pilihan untuk meninggalkan shalat? Sebab shalat merupakan ibadah yang dibutuhkan oleh semua orang, dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai makhluk ciptaan Allah.

Bagaimana kita memahami, bahwa shalat merupakan kebutuhan setiap orang? Mungkin banyak orang yang berpikir bahwa shalat yang dikerjakannya adalah untuk Allah, sehingga mereka beranggapan bahwa Allah butuh terhadap shalat yang ia kerjakan. Sungguh ini adalah pemikiran yang sangat salah. Perlu diketahui, bahwa meskipun Allah memerintahkan kepada manusia untuk beribadah kepada-Nya tetapi Allah tidak sedikitpun membutuhkan ibadah tersebut, karena Allah tidak butuh terhadap segala sesuatu. Sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir : 15)

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra: 7)

Jadi, jika seseorang tidak mengerjakan shalat, bahkan apabila seluruh manusia tidak beribadah kepada Allah, maka hal itu tidak sedikitpun membuat Allah rugi. Karena Allah tidak pernah membutuhkannya sedikitpun, tetapi manusia lah yang membutuhkannya dan akan merugi jika tidak mengerjakannya.

Maka bagaimana mungkin seseorang memilih untuk tidak mengerjakan shalat, padahal ia tidak memiliki pilihan untuk itu, sementara jika ia tahu apabila tidak mengerjakannya maka dirinya-lah yang akan mengalami kerugian?

Mari kita tarik kembali analoginya seperti pada bagian awal tulisan ini. Apakah seseorang memilih untuk tidak makan, padahal ia tahu jika tidak makan maka ia akan kelaparan? Apakah seseorang memilih untuk tidak tidur, padahal ia tahu jika tidak tidur maka tubuhnya akan menjadi lemas dan mudah terserang penyakit? pasti jawabannya adalah TIDAK, karena ia tahu dirinya-lah yang akan rugi jika tidak melakukannya, dan tidak ada pilihan untuk menolak mengerjakannya. Maka ketahuilah, demikian halnya dengan shalat, seseorang akan mendapatkan kerugian yang nyata, yang lebih keras akibatnya.

Jadi, kenapa harus shalat?

Kesimpulannya adalah karena setiap orang butuh untuk shalat, untuk bersyukur kepada Allah yang telah menciptakannya dan yang telah memberikan berbagai kenikmatan dalam hidupnya. Terlebih lagi, jika seseorang tahu bahwa dengan shalatnya, akan menyelamatkan dirinya dari siksaan di hari akhir, dan mendapatkan balasan berupa Surga yang tiada kenikmatan dunia dapat melebihi apa yang ada didalamnya, maka bagaimana mungkin ia akan meninggalkannya??

 

 

Referensi :

  • Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc, rumaysho.com
  • Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, almanhaj.or.id
  • Wiwit Hardi P., muslimah.or.id

Gambar artikel : Konevi – pixabay.com

Leave a Comment